Desa Ketanen

Kec. Panceng
Kab. Gresik - Jawa Timur

Artikel

Sejarah Desa Ketanen

Administrator

26 Agustus 2016

418 Kali dibuka

Sejarah Desa Ketanen

 

 

Asal mula nama Desa Ketanen, Dusun Sono, Dusun Pundut, Dusun Lemahireng dan Mabang

Dalam sebuah buku manuskrip peninggalan Sunan Kali Jaga yang saat ini terdapat di bukit Surowiti, disebutkan bahwa pada akhir masa Kerajaan Majapahit (13M), sering terjadi peperangan besar serta konflik internal yang berkepanjangan. Pada saat itulah pertumbuhan peradaban Islam berkembang dimulai dengan datangnya Walisongo bersama berdirinya kesultanan Islam yang ada di Demak Bintoro.

Pergantian zaman Kerajaan Hindu ke Islam diwarnai dengan penyebaran tokoh-tokoh dari kerajaan Majapahit ke berbagai penjuru daerah. Pada daerah Gresik Pantura, terdapat tiga tempat yang menjadi pusat penyebaran tokoh-tokoh tersebut, yaitu Bukit Surowiti (ada di Desa Surowiti), Bukit Larangan (berada di daerah Desa Prupuh dan Dalegan), dan Bukit Putusan/Kukusan (berada di Desa Prupuh). Dalam segitiga emas bukit inilah terdapat Bukit Pundut yang berada di Desa Ketanen.

Pada waktu itu konon banyak orang sakti yang melintasi sungai kecil yang bernama Kali Supani. Ada beberapa tokoh yang berhenti di Kali tersebut lalu berencana untuk membedah Kali Supani, tetapi tidak berhasil malah Kali tersebut menjadi sumber besar (sumber mata air). Suatu ketika warga sekitar menemukan sumber besar tersebut, mereka bersorak gembira dan berkata “bejo, bejo, bejo” karena merasa menjadi orang beruntung menemukan sumber mata air, sumber kehidupan. Para warga itu disebut “bejan”. Dari situlah akhirnya menjadi desa yang dinamai Bejan. 

Ditemukannya sumber mata air tersebut daerah Bejan dan sekitarnya menjadi daerah pertanian yang sangat subur, banyak pepohonan yang tumbuh dengan rindang. Kemudian bermunculan sumber mata air lainnya. Lalu akhirnya muncullah istilah sumbersongo yang disebut “Angsongo” dan kemudian itulah yang menjadi cikal bakal dinamainya dusun “Sono”.

Dinamai Angsongo (berasal dari kata “Ngangsu ing sumur songo”) karena diantara Desa Bejan dan Ketanen terdapat Sembilan sumur yang menjadi sumber kehidupan di daerah tersebut.

Seiring berjalannya waktu, semakin banyak penduduk yang tinggal di daerah Sono. Suatu ketika muncullah dua kelompok besar, yaitu Matihbang dan Matihreng, yang diperkirakan sekarang menjadi nama Mabang dan Maireng (Lemaireng). Kedua kelompok tersebut berselisih dan akhirnya perselisihan itu di damaikan oleh salah seorang yang berdiam di sebuah bukit.. Dimana pada bukit tersebut telah berkumpul 5 orang Pandito. Dari situlah  kemudian akhirnya bukit itu dinamai bukit “kapanditan” yang sekarang diketahui sebagai “bukit Pundut” yang melatar belakangi penamaan Dusun Pundut.

Karena ikhtiyar beberapa pandito tersebut maka berdamailah antara kelompok matihbang dan matihreng. Ketika suasana menjadi damai keduanya akhirnya berkumpul menjadi satu dan mereka sama-sama belajar cara bertani, berdagang, dan seterusnya sehingga terciptalah kehidupan yang kompak. Kemudian karena bahagia atas damainya kedua kelompok tersebut, akhirnya pandita mengumpulkan sebagian warga yang berada di angsongo, warga yang berada di sepanjang kali supani, dan yang ada di sekitar kapanditan untuk merayakan kebahagiaan tersebut. 

Sebagai simbol persatuan, Pandhita menyuruh mereka membuat ambeng dari ketan. Pada tahun pertama dan kedua, terselenggaralah proses slametan tersebut, lalu akhirnya masyarakat sekitar menamakan desa tersebut dengan nama “Desa Katanan”, yang sekarang menjadi Ketanen. Alasan mengapa ketan yang dipakai sebagai simbol yaitu karena ketan persifat menempel, yang bermakna sebagai perekat, bisa merekatkan hati para penduduk di angsongo, warga yang berada di sepanjang kali supani, dan yang ada di sekitar kapanditan. 

 

(Sumber: Khazanah ilmiah dalam acara Sarasehan Budaya dan sedekah bumi Ketanen oleh Bapak  H.Moh. Sonhaji Ridhwan- Sejarawan sekaligus pemegang buku manuskrip peninggalan Sunan Kalijaga).

 

Sumber Daya

            Desa Ketanen memiliki berbagai macam warisan situs alam. Diantaranya; Bukit Pundut, Sendang Ketanen, Sendang Pundut, Sendang Lemahireng dan Sumur Sono. Keberadaanya hingga kini menjadi aset sumber daya alam yang terus dirawat dan dijaga oleh masyarakat sekitar melalui kegiatan ritus tahunan sedekah bumi Desa Ketanen.

Bukit Pundut terletak di bagian utara Desa Ketanen. Dahulu berjajar megah bersama 7 bukit lainnya yang dikenal merupakan wilayah dakwah para Wali Songo. Bukit pundut adalah salah satunya, dikisahkan dahulu terdapat seorang kesatria berkuda yang menjaga bukit Pundut serta wilayah disekitarnya. Beliau adalah pengawal Sunan Kalijaga dalam memperjuangkan dakwah Islam di wilayah Kecamatan Panceng dan sekitarnya. Sejak dahulu kala bukit Pundut terkenal dengan berbagai cerita rakyat. Mulai dari Goa Macan dan Goa Kemaron yang menjadi jujukan tempat pertapaan, Watu Lumbung yang dimanfaatkan masyarakat sebagai tempat menyimpan hasil panen, sampai pada kisah thowaf mengelilingi bukit sebanyak 7 kali putaran untuk memperoleh kesaktian tertentu. Gunung yang keberadaannya merupakan pasak bumi, serta sebagai penjaga keseimbangan. Maka keberadaan Bukit pundut adalah sebagai pusatnya Desa Ketanen. (Sumber: Wawancara dengan Bapak H. Basri)

Sendang merupakan sebuah kolam pemandian alami yang memiliki Sumber Mata Air  yang tidak pernah surut. Kebanyakan sendang ditanah Jawa bersifat sakral serta dihormati dengan melaksanakan tradisi Dudok Sendang maupun Dekahan/ Sedekah Bumi tiap tahunnya. Sebagai bentuk rasa Syukur terhadap keberadaan sumber mata Air yang melimpah, untuk kebutuhan Minum, Memasak, Mandi, Mencuci dan sebagai sumber kehidupan. Desa Ketanen memiliki banyak sumber Mata Air. Sendang Ketanen, Sendang Pundut, Sendang Lemaireng, Sumur Mabang, Sumur Sono dan berbagai sumber lainnya yang mengaliri kawasan pertanian. Pada satu versi hal inilah yang melatarbelakangi munculnya nama Desa Ketanen berasal dari kata "Tani" yang memiliki karakter pertanian sangat maju serta hasil yang Gemah Ripah Loh Jinawi.

Sendang Ketanen adalah awal sumber kehidupan di Desa Ketanen. Dikisahkan sendang ini ditemukan oleh seorang Perempuan yang merupakan keturunan sebuah kerajaan di tanah Jawa. Ketika melakukan perjalanan spiritual/ perantauan beliau menemukan sumber Air Sendang di wilayah Ketanen. Perempuan ini kemudian menetap bersama Keluarganya. Dan membangun sebuah Rumah serta kawasan persawahan untuk bercocok tanam. Dan mendapatkan hasil bumi yang sangat memuaskan. Setelah selang beberapa waktu bagai magnet alami. Orang-orang pun tergerak dan berbondong-bondong datang guna mendirikan tempat tinggal disekitar sumber mata air sendang Ketanen. Akhirnya perkampungan pun terbentuk. Sendang Ketanen secara historis memiliki nilai sebagai pusat kegiatan peronomian masyarakat Desa. (Sumber: Wawancara dengan Ibu Mufaroha)

Sendang Pundut terletak di Desa Ketanen Bagian Utara. Konon katanya sendang ini dibuat oleh seorang Wali yang kebetulan lewat untuk bertapa di Bukit Pundut. Dengan sentuhan tongkatnya untuk mencungkil bongkahan Batu besar, Akhirnya sumber mata airnya pun keluar sampai saat ini. Dikisahkan pada akhir tahun 1800 Masehi. Salah seorang Santri Kanjeng Sepuh Bupati Sidayu diperintahkan untuk mengambil Air di Sendang ini untuk mengisi Telaga Rambit Sidayu. Dengan berbekal sebuah keranjang Boran. Pada satu versi menerangkan bahwa hal inilah yang melatar belakangi Sendang ini diberi nama "Pundut" yang bahsa Jawanya berati "mengambil". Airnya dapat diambil meskipun menggunakan boran yang secara fisik memiliki lubang yang sangat besar dan renggang. Konon sendang Pundut juga dimanfaatkan oleh orang-orang untuk mensucikan diri sebelum melakukan pertapaan di Bukit Pundut. Untuk mendapatkan Pencerahan, Hidayah maupun Kesaktian. Keberadaan sendang pundut adalah yang paling tua di Desa Ketanen. Airnya yang selalu jernih dimanfaatkan sebagai tempat mandi dan mencuci yang luberan airnya mengaliri lahan pertanian masyarakat sekitar. (Sumber: Wawancara dengan Bapak H. Sulthoni).

Sendang Lemaireng, Sendang ini merupakan warisan situs alam yang sudah ada sejak dulu sekali. Diyakini oleh masyarakat sekitar memiliki beberapa keistimewaan antara lain: Dulunya merupakan tempat mandinya para Raja dan Ratu, Airnya dapat menjadi sarana pengobatan, Tempat mandinya orang-orang setelah melakukan pertapaan dibukit pundut. Ada beberapa cerita menarik dari Sendang Maireng yakni disaat menjelang malam idul Adha (waktu Maghrib) rasa airnya berubah menjadi manis layaknya Air Zam-zam. Juga dibeberapa Momen setelah digelar acara penyembelihan hewan Qurban air dari sumber sendang ini berubah menjadi warna merah, Terang Bapak Musram selaku Tokoh masyarakat setempat. (Sumber: Wawancara dengan Bapak Musram)

Sumur Sono dikenal oleh masyarakat sekitar dengan nama Sumur Grombyang. Karena konon katanya Sumur ini sering mengeluarkan suara Grombyangan air atau Gemuruh Air. Juga konon katanya, Sumur ini juga merupakan Sumur Tiban atau  Sumur-sumur yang tiba-tiba ada. Sehari-hari dimanfaatkan sebagai kebutuhan minum, Mandi, Cuci, kakus dan kebutuhan lainnya. Dalam sebuah buku manuskrip peninggalan Sunan Kali Jaga di bukit surowiti, sumur ini merupakan salah satu sumur songo (9 sumur). karena itulah daerah disekitar sumur ini dinamai Dusun Sono. (Sumber: Wawancara dengan Bapak Sampurno).

 

 

Demografi

Wilayah Pantura (red: pantai utara) Kabupaten Gresik tepatnya di tengah Hutan Jati, terdapat sebuah Desa yang diberi nama Ketanen. Desa ini memiliki luas wilayah 4.160.913 H dengan jumlah penduduk saat ini mencapai 2.627 jiwa. Desa ini bertopografi tanah kapur yang berbukit dan tanah merah yang datar dan luas sehingga cocok untuk pertanian. Tanah subur tersebut ditumbuhi beraneka ragam hayati meliputi; Padi, Ketan, Jagung, kacang kedelai, umbi-umbian sampai tanaman tembakau. Dan tentu saja Mayoritas masyarakatnya berprofesi sebagai petani. Desa ketanen dibagi menjadi 5 wilayah diantaranya; Ketanen Krajan, Pundut, Lemah Abang, Dusun Lemah Ireng dan Dusun Sono. Dewasa ini Desa Ketanen termasuk dalam kategori Desa berkembang dengan segala macam potensi yang dimiliki. Mulai dari wisata alam, kearifan lokal, warisan situs Budaya sampai berkembangnya kualitas sumber daya manusianya.

 

 

Tokoh yang mempelopori Desa Ketanen

  1. Sayyid Abdurrahman nama julukanya mbah Joyo Adi (mbah bakal). Beliau merupakan tokoh pandito yang menyatukan Desa Ketanen.
  2. Mbah Pandhit/ Mbah Tugur yang bersemayam di atas bukit kapandhitan/pundut. Konon beliau adalah seorang kesatria penunggang kuda yang merupakan pengawal sunan Kali Jaga. Bertugas untuk menjaga masyarakat yang tinggal di Kawasan bukit pundut dan sekitarnya.
  3. Mbah Sujud yang berdiam di sendang Pundhut. Mbah sujud tidak punya rumah, dan aktivitasnya yaitu bersujud di samping sendang pundhut untuk beribadah kepada Allah, berdzikir, dan mendoakan anak cucu keturunanya. di tepi sendang itu terdapat batu yang berukuran 2X4 meter yang dulunya merupakan tempat sujud Mbah sujud.

Mbah Bondo “yang berarti mbah yang punya banyak bondo (harta)”. Ia merupakan Petani yang sangat kaya raya dan dan masyhur sebab kedermawananya yang luar biasa. Ia Mempunyai sapi, kerbau, kambing, dan banyak harta lainya. Petani ini menyumbangkann hartanya untuk berjuang di masyarakat dan membangun desa. Meskipun kaya raya dan memiliki sifat dermawan tetapi petani ini sama sekali tidak mau di gelari sebagai orang kaya dan diperlihatkan jasanya di masyarakat, justru ia malah bersikap sangat rendah  hati dan ikhlas  sampai-sampai  tidak mau di ajak berkumpul di masyarakat dan lebih memilih hidup seorang diri di tengah hutan. Diperkirakan bahwa Mbah Bondo ini bukan berasal dari Ketanen, beliau merupakan salah satu keturunan Raden dari Mataram.

Komentar yang terbit pada artikel "Sejarah Desa Ketanen"

Aparatur Desa

Kepala Desa

MAT ROFIK, S.Ag

Sekretaris Desa

MUHAMMAD YANI, S.E

KAUR KEUANGAN

ERNA MAWADDATURROHMAH, S.Pd

KAUR PERENCANAAN

YAHYA, S.Pd

KAUR TU DAN UMUM

JUMINTO

KASI PELAYANAN

ALI MUHAJIR

KEPALA DUSUN SONO

AHMAD FATIH, S.Pd

KEPALA DUSUN LEMAHIRENG

NUR SHODIQ, S.AG

KASI KESRA

MOHAMMAD REFINDA ADITYA SALSABILA

KASI PEMERINTAHAN

MOH. FATIKHUDIN, S.Pd

Layanan Mandiri
Layanan Mandiri
Layanan Mandiri
Layanan Mandiri

Desa Ketanen

Kecamatan Panceng, Kabupaten Gresik, Jawa Timur

Sinergi Program

Media Sosial

Statistik Pengunjung

Hari ini:227
Kemarin:293
Total:56.324
Sistem Operasi:Unknown Platform
IP Address:162.159.114.4
Browser:Mozilla 5.0

Lokasi Kantor Desa

Latitude:-6.917672025957571
Longitude:112.45277166366577

Desa Ketanen, Kecamatan Panceng, Kabupaten Gresik - Jawa Timur

Buka Peta

Wilayah Desa